Tampilkan postingan dengan label ke-SH-an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ke-SH-an. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Desember 2013

CATATAN SUNYI PESILAT

Aku menyadari bahwa sekali memasuki dunia persilatan, tak akan lagi mampu keluar tanpa jejak.
Memasuki babak baru dalam kehidupan yang serba keras, namun sangat kompleks sebagai suatu pengalaman yang tak ternilai harganya. Ada perjuangan keras, pengungkapan jati diri, kesatriaan, pertarungan, perselisihan, kedamaian, hingga pada akhirnya sampai pada ranah hakikat kehidupan.

Tak bisa ku bendung kekaguman, laksana serangan seorang pesilat yang bagaikan ombak berkejaran menghantam karang kesombongan.

Ooh, aku terbanting dalam memoriam masa silam. Tentang sebuah kisah yang sarat akan nilai filosofi kehidupan. Imajinasiku berkelana, sesaat ku dengar denting pedang yang memercikkan bunga-bunga api.
Diikuti dengan pukulan tangan kosong dan tendangan tanpa bayangan. Untuk kemudian ku dengar bisik mantra lalu terpecahlah jerit kematian.

Gila, distorsi makna tentang dunia persilatan kian merajalela. Pesilat dianggap kaum terasing yang harus diusir dari tanah nusantara. Dan aku tak peduli, tetap masih ingin duduk bertapa di dalam diri. Hingga turun padaku ilmu tertinggi, KOSONG.

Seperti yang selalu dilakukan oleh mereka yang mencari kesejatian dalam jagad persilatan. Berkelana kesana- kemari demi menemukan sebuah jawaban. Bertanding ilmu dengan para jawara putih maupun hitam. Hingga pada akhirnya, mereka memilih menjadi manusia terhebat, yaitu manusia BIASA, tanpa nama.
Terlepas dari bayang kemahsyuran.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sebuah catatan sunyi di GPM, Jumat, 29 November 2013, Pukul 00:58 WIB

Jumat, 08 November 2013

Tentang Laku Tirakat

Puasa adalah salah satu sarana untuk melepaskan diri dari belenggu nafsu yang menggebu, melatih kesabaran dan sebagai palu godam untuk merontokkan kerak yang menempel bandel di dinding-dinding hati.
Melembutkan jiwamu sehingga
terpancar cahaya-Nya dari dari dalam ruhanimu.

Cahaya itu akan mewujud dalam
berbagai bentuk. Jika cahaya itu
keluar melalui lisanmu, jadilah kata-kata arif bijak yg menyejukkan dan menggetarkan hati orang.
Jika cahaya keluar melalui tangan dan kakimu, jadilah perbuatan/tindakan yang terpuji. Dan sebagainya.

Demikianlah cahaya demi cahaya
akan terpancar ke segala penjuru
sesuai fungsi dari alat tubuh.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Nasihat atau wejangan dari seorang guru hanyalah pembuka wawasan. Sedangkan ILMU SEJATI hanya bisa ditemukan dengan memperbanyak laku tirakat dan riyadhah.
Maka saya tidak heran kalau ada
orang yang cari wejangan sana-sini,
minta nasihat ini-itu, dan belajar
budi pekerti yg macam-macam, Tapi tetap saja kepribadian aslinya tidak berubah. Yah, begitulah sifat
WAWASAN. Hanya menempel di otak saja. Tidak meresap sampai ke hati. Akibatnya sama saja. Ilmu gudangan tapi perilakunya gadungan.

Hanya dengan perbanyak laku engkau akan memahami ilmu yang
sesungguhnya. Serta mampu
memancarkan cahaya nurani dengan seterang-terangnya.

Lambang hati bersinar di kaos dan
atribut-atribut itu akan terbukti.
Bukan hanya omong kosong yang
dipajang ke sana kemari.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Inilah alasan besar mengapa saya
selalu mewasiatkan secara tegas
kepada segenap warga dan siswa
padepokan Kalimosodo setiap
generasinya untuk memperbanyak
tirakat. Terlebih sejak tiga bulan
menjelang Suran/ pengesahan.
~~~~~~~~~~~~~~~~

Dan informasi ini pun hanya akan
menjadi hiasan jika kau hanya
membacanya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ada rahasia di sebalik rahasia tulisan ini. Kau tak akan mampu mengungkap jika kau tak mencarinya sendiri dalam
perjuangan tirakatmu.
~~~~~~~~~~~~~~~

Berpuasalah minimal puasa Daud.
Sehari puasa, sehari buka. Itu
takaran minimal yang ku wasiatkan
padamu.
Jika tidak ada halangan seringlah naik gunung (Ke padepokan) untuk me-refresh dirimu.

Demikianlah. Salam Cinta dariku.

Kalimosodo, Monggo Kerso...!

Sabtu, 04 Mei 2013

Pendekar, Inilah Tugasmu


Masih ingatkah masa pahit getir ketika menuntut ilmu dahulu? Yah, begitulah tabiat ilmu, selalu saja dipeluk oleh kesengsaraan dalam menggapainya. Segala Puji bagi Allah swt, karena kini berkat rahmat-Nya kita dapat merasakan nikmat ilmu tersebut dan berhasil meraih gelar sebagai pendekar SH Terate yang sangat membanggakan. Namun, tidak berhenti sampai di situ perjuangan kita. Dalam mengemban misi ‘Memayu Hayuning Buwono’, kita mendapat amanah yang tidak boleh dilupakan. Yang menjadi tolak ukur seberapa berartinya masa hidup kita.

Dengan diberikannya gelar Pendekar SH Terate dan mengingat Sumpah Bersama yang pernah kita ikrarkan, inilah tugas abadi yang harus kita emban:

  1.  Nglakoni (Mengamalkan)
Di masa siswa kita mendapatkan berbagai macam disiplin ilmu. Baik di bidang persaudaraan, olah raga, bela diri, kesenian maupun bidang spiritual. Kini setelah disahkan menjadi Pendekar SH Terate, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk mengamalkan berbagai bidang ilmu tersebut.
a.       Di bidang persaudaraan caranya dengan kita gemar menyambung silaturahmi. Kepada siapapun, tanpa pandang latar belakang. Bukankah dengan silaturahmi kita akan mendapatkan kelapangan rizki dan umur yang panjang? Sangat salah jika kita menganggap pendidikan bersaudara hanya patut kita aplikasikan kepada sesama warga SH Terate. Kita dididik untuk menunjukan sikap bersaudara kepada seluruh manusia.
b.      Di bidang olah raga caranya dengan kita menjaga kesehatan, kebugaran dan kekuatan tubuh kita. Dengan tubuh yang sehat dan kuat, kita akan mampu melakukan tugas – tugas yang berat. Mencari nafkah, menuntut ilmu dan sebagainya. Semasa siswa, raga kita telah dibina sedemikian rupa. Pertahankan dan tingkatkanlah. Jangan sebaliknya.
c.       Di bidang bela diri caranya dengan kita melatih senam, jurus dan teknik lainnya. Baik bela diri tangan kosong maupun bersenjata. Pisau yang tidak diasah akan berkarat dan menurun tingkat ketajamannya, begitu pun dengan kemampuan bela diri. Jadi tetapkanlah jadwal latihan pribadi untuk mengasah kemampuan tersebut. Bisa seminggu sekali atau beberapa waktu sekali sesuai keinginan. Kalau setahun sekali itu sangat keterlaluan.
d.      Di bidang seni caranya dengan kita senang mengasah daya seni. Baik itu seni melukis, seni membaca Al-Qur’an, seni gerak silat dan sebagainya. Seni itu memperhalus budi.
e.      Di bidang spiritual/ kerohanian caranya dengan kita berupaya untuk senantiasa berbuat baik dan benar. Terus memperbaiki diri dalam berakhlaq dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta melalui ibadah sesuai dengan agama masing-masing. Ajaran SH Terate itu universal. Kaji terus ilmu ke-SH-an dan senanglah sowan kepada para sesepuh. Mudah – mudahan itu menghantarkan kita untuk menggapai kasampurnan. Sempurna dalam menjalani kehidupan dan kematian.

  2.   Ngomongi (Menasihati)
Tugas yang ke dua adalah ngomongi / menasihati / mengingatkan jika ada saudara kita yang berbuat kurang elok. Bisa juga kita datang ke tempat latihan di manapun dan memberikan nasihat dalam forum kerohanian siswa. Tapi menasihati ini tidak terpaku oleh waktu dan tempat. Artinya kapanpun dan di manapun kita berkewajiban mengingatkan saudara kita, terlebih jika kita melihat perbuatannya yang tidak baik. Tapi tetap harus diingat prinsip empan lan papan (tahu situasi dan kondisi). Pergunakanlah cara dan bahasa yang penuh hikmah dan bijaksana.
Kemudian jika kita menjadi pihak yang dinasihati/ diingatkan, hendaknya kita kendurkan syaraf dan melapangkan hati untuk menerima nasihat tersebut. Dan segera melakukan perbaikan diri. Tak lupa ucapkanlah terima kasih kepada saudara yang mengingatkan tersebut. Saling bersalaman dan berpelukan sebagai tanda eratnya persaudaraan juga baik (khusus sesama jender)

  3.  Nyontoni (Menjadi teladan)
Leluhur kita mewasiatkan, “Nasihat dengan contoh perbuatan jauh lebih berkesan dari pada nasihat dengan lisan”. Tidak tampak ketinggian ilmu seseorang sampai dia menunjukkan dalam tingkah laku kehidupan sehari - harinya. Yah, jadilah teladan dalam keluarga dan masyarakat di manapun kita berada. Seperti Terate yang selalu tampak indah dan simpatik di manapun berada. Seperti ayam jago yang melambangkan agar kita menjadi jagonya masyarakat, yang dapat diteladani dan diandalkan. Jadilah pribadi yang menginspirasi.

  4.  Meneng/ anteng (Diam/ tenang)
Yang terakhir adalah diam dan tenang. Jika tidak perlu janganlah banyak bicara atau berbuat hal yang memalukan bagi diri sendiri. Jagalah kehormatan diri dari segala hal yang dapat mengahncurkannya. Saya rasa kita semua sudah cukup dewasa untuk memahami maksudnya. “Diam dan tenang adalah perhiasan bagi orang yang berilmu.”

Demikianlah tugas – tugas yang sejatinya harus kita perjuangkan hingga titik akhir kehidupan. Lingkarkanlah mori di tubuhmu, lalu berazamlah sekuat hatimu. Jika ajal telah datang ia akan menjadi teman dan saksi bagimu.
Duhai Tuhan Pencipta alam semesta, berkahilah umur kami. Kumpulkanlah kami dalam golongan orang yang bersaudara karena-Mu. Tutup usia kami dalam keadaan yang Engkau ridhai. Aamiin.

(By: Muhammad Taufiq Aribowo)

Selasa, 24 April 2012

SANG PELATIH

Sejenak luangkan waktu untuk memahami makna pelatih dan kepelatihan dalam sudut pandang Persaudaraan Setia Hati Terate. Dari yang kau tahu bahwa pelatih adalah seseorang yang mengajarkan beberapa jurus yang membuatmu pandai melakukan serang-bela, hingga seseorang yang dengan sabar membimbingmu memahami hakikat kehidupan.
Sejenak luangkanlah waktu untuk memahami makna siswa didik. Yaitu manusia yang seharusnya mendapat perhatian lebih darimu. Karena siswa adalah cermin kepribadianmu yang terus berjalan menunjukkan seberapa besar dirimu.
Sang Pelatih terus mengalirkan mata air kehidupan yang membasahi setiap jiwa yang gersang.
Sang Pelatih seperti cahaya yang menunjukkan jalan bagi orang yang berada di kegelapan.
Sang Pelatih seperti samudra yang menetralisir setiap ujian kenakalan dari siswanya, tanpa pernah terkeruhkan.
Sang Pelatih seperti tanah, meskipun diinjak-injak ia tetap menumbuhkan daun, bunga, dan buah segar kepada penjejaknya.

Luangkanlah waktu untuk memahami makna pelatih.
Jika saja tak ada yang mengajarkan kebaikan, kebenaran maka seperti apa manusia? Pelatih itu seperti orang tua yang tak pernah mengharap imbalan jasa. Terus memikirkan kebaikan apa yang harus ia berikan kepada anaknya.

Sebelum menjadi pelatih renungkan sesaat,
"Apakah aku telah layak untuk menjadi Sang Pelatih."

Kesombongan hanya memunculkan kerusakan.

Selasa, 05 Oktober 2010

Ngonceki Pesona Sang Terate


Mohon maaf sebelumnya, jika dalam catatan ini ada kata-kata yang kurang tepat atau kurang berkenan di hati Saudaraku. Sebuah usaha untuk 'Ngonceki' pesona Sang Terate, sudah lama sekali ingin saya abadikan dalam tulisan yang, mungkin, karena keterbatasan ilmu ini, selalu saja tertunda.

Ingin sekali rasanya berjumpa dengan beliau, Pendiri serta para Penegak Setia Hati Terate, untuk ngudi kaweruh langsung tentang indahnya makna 'Terate' yang melegenda ini.

Tapi, keinginan itu sepertinya harus terkubur dalam hati, karena mereka sudah banyak yang kembali ke sisi Yang Maha Sempurna.

Semoga catatan ini mendapat perhatian dari para warga PSHT yang 'sepuh' ilmunya, sehingga menyumbangkan ilmu untuk perbaikan selanjutnya.

Semoga Bermanfaat...





Ngonceki (mengupas) Pesona Sang Terate itu seperti kita membuka buku. Setiap lembarnya tersimpan sejuta ilmu.

Kenapa harus TERATE?

Sekarang andai saja yang dipakai adalah nama binatang seperti Macan, sehingga menjadi Persaudaraan Setia Hati Macan. Tentu itu akan menggambarkan keangkeran, ganas, dan ditakuti.

Tidak Saudaraku, orang SH itu justru amat jauh dari sifat angker, ganas, dan ditakuti.

Sekarang, andai Persaudaraan Setia Hati Onta? hemmm, jangan bercanda ya!!! itu mungkin kalau lahirnya SH di Padang Pasir..



Lalu, kalau tanaman?

Kenapa tidak Setia Hati Mawar, misalnya?

Mawar itu bunga yang sangat indah dan harum sekali baunya, tapi kalau kita dekati bisa saja kita akan tertusuk duri tajamnya.

Tidak Saudaraku, itu akan menggambarkan pribadi yang indah pada dzahirnya, namun setelah orang-orang mendekati, ia akan menusuk, menyakiti setiap orang yang mendekatinya. Apalah arti keindahan dzahir, tapi hatinya menyakitkan?



Setiap lembar buku Terate berisikan ilmu yang indah, membuat siapapun yang memilikinya akan memiliki pribadi yang indah pula.

Akar Terate, tak pernah mengeluh meski ia harus mencari 'makan' di lumpur maupun di daratan. Ia tetap mensuplai gizi untuk keindahan tubuhnya. Begitu juga manusia 'Terate' di manapun ia berada seharusnya selalu menyerap/ menambah ilmu, karena dengan ilmulah manusia akan mencapai derajad kemuliaan hidup. Ayo memohon untuk selalu diberi semangat menuntut ilmu.



Daun Terate, berwarna hijau dan lebar (jembar). Mengisyaratkan kepada para warganya untuk selalu mencintai dan menjaga perdamaian, Njogo katentreman ing dunyo. Keberadaannya selalu menentramkan, minimal tidak meyebabkan kerusuhan.

Dadi manungso kang jembar dadane. Memiliki sifat pemaaf, tidak mudah terbakar amarah, dan sabar. Insyaalloh kita mampu menjadi pribadi yang digambarkan daun terate. Amin..



Tangkai bunga Terate, yang tampak tegak kokoh, namun sebenarnya tidak memiliki galih, alias bolong tengahnya seperti sedotan, yang sangat rapuh dan mudah patah (Getas). Mengingatkan para warganya untuk menyadari betapa rapuhnya manusia. Meskipun tampak gagah dan berdiri tegak, sebenarnya manusia itu sangat lemah. Laa Haula Walaa Quwwata illa Billah.

Dengan demikian, seharusnya muncul kesadaran betapa bodohnya manusia yang sombong, merasa super, dan merasa tak terkalahkan. Poro wargo, poro siswo, ojo kumaluhur, tumindako kang persojo. Ojo adigang, adingung, lan adiguno.

Semoga kita terlindung dari sifat buruk tersebut. Amiin..



Bunga Terate;

1. Warna dan baunya tidak terlalu mencolok, tetapi indah dipandang dan harumnya menenangkan. Mengisyaratkan kepada para warganya bahwa untuk mendapatkan simpati dan pengakuan tulus manusia itu tidak perlu menggunakan cara yang berlebihan. Harus naik mobil mewah, pakaian sutera, singgasana, dan segala macamnya. Justru dengan kesederhanaan dan keharuman budi, kita akan dihormati dan dicintai dengan tulus ikhlas. Yaa Robby, indahkanlah budi pekerti kami...
2. Kuncup, setengah mekar, dan mekar. Mengingatkan kepada para warganya bahwa kita harus melebur dalam persaudaraan. Miskin, cukup dan kaya tidak layak untuk memecah belah ukhuwah yang indah ini. Hapus rasa perbedaan yang membuat orang merasa diagungkan sedang yang lain merasa diremehkan. Kita adalah satu yang terus bersatu dalam samudera persaudaraan.
3. Entah siang, malam, pagi, atau sore, bunga Terate selalu menghadap ke atas. Tidak seperti bunga matahari yang doyong sana doyong sini. Ini adalah PUNCAK ILMU TERATE. Mengajarkan kepada para warganya bahwa setiap saat harus selalu menghadapkan HATI pada Tuhan Yang Maha Kuasa dalam situasi dan kondisi yang bagaimanapun. BENAR!!! INI ADALAH PUNCAK ILMU TERATE.



Poro Kadhang SHT,

Subhanalloh, ternyata begitu indah ajaran TERATE yang selama ini kita abaikan. Kita sibuk mendalami ilmu kadigdayan tanpa pernah meluangkan waktu untuk mengkaji ilmu ke-SH-an.

Untuk Panjenengan yang mungkin masih terlupa dengan ajaran luhur ini, selamat menyelami lautan hikmah dan semoga mampu mencapai derajat orang yang 'SETIA HATI TERATE'. Amin.

Hanya ini yang bisa saya sampaikan. Wallohu'alam.

Minggu, 14 Februari 2010

Saudaraku.......


Tutup mata hatimu dari kebencian, jangan selalu gelisah, hiduplah dengan kesederhanaan, pengeluaran yang terbatas, memberi yang banyak, selalu bernyanyi, selalu berdo'a, lupakan masa lalu...selalu berpikir dengan perasaan, beri perasaan hatimu dengan cinta seperti matahari yang akan terbit...semua itu merupakan lingkaran emas dari kehidupan yang pasti akan berhasil.

Sebuah Renungan


"Amenangi jaman edan ewuh aya ing pambudi. Melu edan ora tahan, yen tan melu anglakoni boya kaduman melik kaliren. wekasanipun, ndilalah kersane Allah, sak bejo-bejone wong kang lali isih bejo wong kang eling kelawan waspodo."

Kurang lebih, seperti ini artinya :
"Menghadapi zaman gila serba sulit dalam pemikiran. Ikut gila tak tahan, jika tidak ikut tak kebagian. Akhirnya, karena kehendak Alloh yang Maha Bijaksana, seuntung-untungnya orang yang lupa, masih tetap untung orang yang ingat dan selalu waspada."

Ingat, bahwa kita hidup berasal dari mana (sangkan paraning dumadi), untuk apa, dan setelah mati akan kembali kemana.. "Tidaklah Aku (Alloh) menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk menyembah-Ku."
Waspada, kita harus waspada dalam setiap langkah hidup. karena musuh selalu mengintai dan berusaha untuk menjatuhkan kita. "Sesungguhnya Syaithon itu adalah musuh yang nyata bagimu." yah, syaithon senantiasa berusaha agar kita tidak Setia Hati, agar keimanan dan ketaatan kita meluntur.. dengan berbagai cara.. maka perkuat kewaspadaan kita.

Menjadi Terate di Tengah Zaman

Sempat terfikir jika Sang Terate mampu berkembang di bawah teriknya mentari., maka kita juga pasti bisa menegakkan kekuatan perdamaian di bawah bayang-bayang gilanya peradaban. Dan tetap mampu menembus ruang permusuhan dan pertikaian. Alangkah indahnya jika ternyata kita pun mampu jika harus menelisik rahasia jiwa yang beragam.

Menjadi sosok Terate memang tak terlalu mudah. Itu berarti kau harus mampu menyelaraskan jeritan jiwa dengan alunan musik Illahi. Kau mesti mampu mengungkap misteri di balik lemahnya wujudmu. Bukan kebanggaan yang harus kau kejar, melainkan sebuah celah kerelaan Tuhan, meski keridhoan itu teramat lekat dengan penderitaan dan cemoohan manusia dzolim.

Menjadi Terate, berarti kau juga harus mampu untuk mempelajari setiap lembar demi lembar tulisan ilmu yang terpatri di daunnya yang melebar.
Di sana tertulis amanah yang takkan mampu dicerna oleh insan yang berjiwa cinta dunia. Yang masih terikat dengan unsur egois, serakah, dan ketergesaan.

Wahai insan Terate, bersamamu aku akan mengangkat sebuah rahasia terindah di sebalik jati diri kita yang sebagian mesih tertutup oleh kelengahan. Cobalah kau lihat daunnya yang melebar nan hijau bak permadani surga, itu berarti ia berusaha mengajarkan kecintaan terhadap perdamaian yang hakiki. Begitu juga luasnya samudera kesabaran yang mesti kita kuasai.

Pernahkah insan menyentuh secercah rasa damai, ketika ia dimabuk keangkaramurkaan yang membelenggunya …? Ku rasa jawabnya tidak. Dan ku rasa kau pun akan bergumam sama sepertiku, seperti anak kecil lainnya. Bahkan orang yang jahil pun akan mengatakan tidak…

Namun, sering kali kau merindukan perdamaian dan sering kali jua kau bersenandung lagu persaudaraan. Itukah yang kau cari ? Sedangkan yang kau suka adalah memelihara sifat angkaramu. Rasanya tak berlebihan jika sebuah pepatah mengingatkanmu, “bagai menegakkan benang yang basah”.

Yah…! Menjadi Terate di Tengah Zaman memang terlampau sulit untuk diwujudkan. Itu karena hatimu sendiri yang menolak persaudaraan. Dan kau lebih bangga dengan cara berjalanmu yang mencerminkan kesombongan, cara berbicaramu yang berlindung di balik kata ‘pergaulan’, dan cara berfikirmu yang terperangah oleh kotornya zaman.

Tapi, Menjadi Terate di Tengah zaman, tak begitu sulit jika kau mampu membaca kitab tersembunyi di balik daunnya yang lemah dan seolah tak berarti. Tentunya dengan kejernihan berfikir yang dibumbui kesungguhan.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, serta silih bergantinya malam dan siang, sungguh terdapat pelajaran bagi orang yang berakal” (QS. Ali- Imron : 190)
KENAL DIRI BERBUDI LUHUR